Monday, June 30, 2008

OGGIX Kok Error Terus Ya?

Untuk buku tamu di blog Chi, dua-duanya Chi pake oggix tapi udah beberapa kali kayaknya oggix kok error terus y? Ninja Padahal Chi seneng banget loh pake oggix, soalnya icon smileynya paling banyak. Hehe.. (I love smiley Kisses ). Tapi karena beberapa kali error terus, Chi jadi kepikiran untuk bikin alternatif ke-2, seperti yang dilakukan mom talitha.

Untuk shoutboxnya Chi pake shoutmix. Trus untuk counternya Chi ganti pake amazing counters. Nah kalo liat visitor di site meter kok langsung besar jumlahnya itu karena Chi start awalnya gak dari nol. Chi start dr angka 1275, karena waktu masih pake oggix visitor untuk blog ini kan udah segitu jumlahnya. Hhh.. mudah-mudahan aja shoutmix sama site meter gak gampang error juga.

Continue Reading
1 comment
Share:

Friday, June 6, 2008

Pendidikan Yang Curang

Sebelumnya pernah baca berita ini di koran kompas, sekarang di copy paste dari kompas.com. Kok adanya UN malah jadi seperti menciptakan budaya jelek ya? Gak mau ikutan jadi kayak gitu ah...

DIDAKTIKA
Pendidikan yang Curang



Senin, 26 Mei 2008 03:00 WIB
Nurhaji Ali Khosim


Siang itu, di sebuah sekolah dasar di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, sedang berlangsung ujian tengah semester untuk kelas VI. Seorang ibu guru dengan tekun mengawasi anak didiknya. Murid-murid terlihat serius mengerjakan soal ujian.

Sekilas tidak ada yang aneh di dalam kelas itu. Tetapi, ibu guru tadi tidak bisa ditipu oleh tingkah murid-muridnya. Bagaimana tidak, sedikit lengah, anak-anak SD itu dengan terang-terangan di hadapan gurunya berani mencontek hasil pekerjaan temannya atau menjiplak buku yang ada di dalam laci bangku tanpa merasa bersalah.

Ibu guru itu bingung, tidak tahu harus berbuat apa agar anak-anak itu jera dan tidak berbuat curang lagi. Tidak ada sedikit rasa takut pada anak-anak itu ketika berbuat curang.

Dia tidak mungkin memukul atau menggunakan kekerasan fisik untuk membuat jera karena tindakan tersebut jelas akan ”melanggar HAM”. Tidak mungkin pula dia mengeluarkan anak-anak tersebut dari ruang kelas karena hampir semua murid mencontek atau menjiplak.

Memberi nilai jelek juga bukan solusi cerdas karena dia akan berhadapan langsung dengan pihak-pihak yang berkepentingan dengan prestasi sekolah. Memberi peringatan dan ancaman malah menjadi bumerang bagi dia karena bisa dipastikan muridnya akan balik mengancam.

Ibu guru itu hanya berharap murid-muridnya segera lulus. Tidak lagi menjadi beban ataupun ancaman bagi dia maupun sekolah. Dia tidak lagi peduli, apakah siswa itu layak lulus atau tidak. Yang penting anak-anak didiknya akan lulus dengan nilai memuaskan, meskipun nilai tersebut didapat dengan cara curang.

Budaya menjiplak
Cerita di atas bukanlah ilustrasi atau rekayasa. Itu adalah kenyataan pahit yang terjadi pada dunia pendidikan kita. Berlaku curang dalam mengerjakan soal telah menjadi budaya pelaku pendidikan di Indonesia, dari anak-anak sekolah dasar sampai mereka yang kuliah pascasarjana.

Mencontek dan menjiplak bukan dominasi murid sekolah. Banyak ditemukan, skripsi dan tesis mahasiswa pascasarjana yang hanya copy-paste (proses mencetak ulang-menempel di komputer) dari karya orang lain. Bahkan juga guru-guru yang mengikuti seminar dan diklat bohong-bohongan hanya demi selembar sertifikat.
Pada tingkat sekolah dasar, berbagai trik dan cara dilakukan siswa untuk mencontek dengan cara sangat sempurna. Dari menyalin pelajaran di kertas-kertas kecil kemudian diselipkan di tempat tertentu hingga menulis materi pelajaran di meja. Mereka yang melek teknologi informasi dapat memanfaatkan telepon genggam sebagai sarana mencontek.

Mereka yang orangtuanya kelebihan uang dapat membeli bocoran soal dan kunci jawabannya sekaligus. Yang paling licik, mereka selalu mengawasi guru, yang seharusnya mengawasi murid-murid itu. Bekerja dengan usaha sendiri dan perilaku jujur sudah menjadi barang langka.

Mengapa siswa sekolah yang seharusnya telah mendapatkan pelajaran budi pekerti itu berlaku tidak jujur?

Sering dibohongi
Anak-anak berlaku curang karena sering dibohongi. Orangtua yang sering berkata bohong, membeli buku lembar kerja siswa yang isinya bohong belaka, terlalu sering melihat iklan televisi yang banyak bohongnya, hingga tayangan sinetron TV yang ceritanya juga melulu bohong.

Imbauan kepada anak didik agar selalu rajin belajar dan selalu berkata jujur akhirnya hanya menjadi omong kosong. Imbauan itu sama sekali tidak mempunyai makna jika anak didik tersebut tidak mendapatkan contoh nyata dari guru dan dari orangtua sendiri.

Anak-anak akan merespons dan akhirnya meniru perilaku orang dewasa. Perilaku anak-anak dipengaruhi oleh pengamatannya terhadap perilaku orang lain.
Tuntutan dari sekolah maupun dari orangtua untuk selalu mendapatkan nilai tinggi pada akhirnya memberi ruang gerak bagi siswa untuk melakukan perbuatan curang. Malas berpikir dan mencari jalan pintas adalah solusi.

Peran guru dan orangtua
Saatnya guru, kepala sekolah, pengawas sekolah, orangtua, ataupun dinas pendidikan menjadi contoh perbuatan yang berdasar kejujuran. Guru tidak perlu membantu mengerjakan soal ujian hanya demi nilai tinggi.

Kepala sekolah juga tidak perlu menyogok karena hanya ingin menjadi pengawas sekolah. Begitu pula dengan dinas pendidikan, jangan memaksa kepala sekolah agar siswa sekolah binaannya lulus 100 persen.
Sistem pendidikan yang berorientasi pada nilai harus dilakukan. Perilaku jujur bagi siswa merupakan modal menuju pendidikan ke arah lebih baik. Anak-anak hanya butuh contoh yang baik dari guru dan orangtua. Tidak lebih dari itu.

NURHAJI ALI KHOSIM Guru SD, Mengajar di Klaten; khosimjo@gmail.com

Continue Reading
No comments
Share:

Thursday, June 5, 2008

UASBN Bahasa Indonesia Aneh!

Habis baca berita tentang pendidikan di kompas.com, yang mengulas tentang keanehan dalam UASBN Bahasa Indonesia. Isinya seperti ini...

UASBN Bahasa Indonesia, Aneh!
Senin, 12 Mei 2008 00:15 WIB
Oleh Hanif Nurcholis

Sesuai Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 39 Tahun 2007 tentang Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional, pada Mei 2008 semua SD/MI di Indonesia akan menyelenggarakan UASBN. Salah satu mata pelajaran yang diujikan adalah Bahasa Indonesia. Pada lampiran permendiknas tersebut ditetapkan cakupan standar kompetensi lulusan.

Dalam Standar Kompetensi Lulusan (SKL) tersebut termuat hal-hal yang akan diujikan, mencakup indikator-indikatornya, materinya, dan bentuk soalnya.

Untuk Bahasa Indonesia, SKL yang akan diujikan hanya aspek membaca dan menulis, sedangkan aspek mendengarkan dan berbicara tidak diujikan. Untuk mengetahui apakah siswa menguasai dua SKL tersebut atau tidak, ia akan diukur dengan alat uji berupa soal obyektif pilihan ganda sebanyak 50 butir dalam waktu 120 menit.

Melihat cakupan SKL yang akan diujikan dan instrumen ujinya, khususnya untuk SKL Menulis, sudah sepatutnya para guru, pakar pendidikan, pemerhati pendidikan, organisasi profesi pendidikan, dan masyarakat luas menolak hasil ujian akhir sekolah berstandar nasional (UASBN) 2008 Bahasa Indonesia karena dua hal. Pertama, lingkup SKL yang diujikan tidak sesuai dengan SKL nasional. Sesuai dengan Permendiknas No 23/2006 tentang SKL, SKL mata pelajaran Bahasa Indonesia terdiri atas empat komponen: Mendengarkan, Berbicara, Membaca, dan Menulis. Dengan demikian, dua SKL, Mendengarkan dan Berbicara, tidak diujikan, padahal siswa dilatih dan dibimbing oleh gurunya dalam proses pembelajaran untuk menguasai dua SKL ini.

Kedua, dilihat dari validitas isi, menguji kemampuan menulis dengan instrumen berupa soal pilihan ganda jelas sangat tidak valid.

Dengan hanya menguji SKL Membaca dan Menulis, berarti hasil UASBN yang menjadi penentu kelulusan tidak bisa dipertanggungjawabkan karena hanya menguji 50 persen SKL nasional. Akan tetapi, sebenarnya hanya 25 persen sebab instrumen penilaian untuk SKL Menulis juga tidak valid.

Ketidaksahihan alat uji SKL Menulis tersebut terkait dengan keluarnya tiga kurikulum terakhir: Kurikulum 1994, KBK 2004, serta Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan 2006. Ketiga kurikulum tersebut sudah tidak mengamanatkan pengajaran kebahasaan/linguistik dan ejaan, tetapi pembelajaran keterampilan berbahasa.

Ketiga, kurikulum tersebut mengembalikan pelajaran bahasa pada khitahnya: sebagai alat komunikasi. Isi pelajaran bahasa adalah melatih siswa agar mampu berkomunikasi: mampu menangkap informasi dan gagasan dari luar (receptive ability) melalui aktivitas membaca dan mendengarkan, serta mampu menyampaikan gagasan dan pikiran sendiri kepada orang lain (productive ability) melalui aktivitas berbicara dan menulis.

Pelajaran kebahasaan dan ejaan hanya diajarkan sebagai pendukung agar kemampuan produktifnya, baik berupa tulisan maupun ucapan, sesuai dengan kaidah bahasa. Dengan demikian, hasil belajar SKL Menulis adalah kemampuan produktif anak, yaitu kemampuan mengembangkan gagasan yang berada di otak, lalu menuangkan gagasannya tersebut dalam bentuk tulisan di kertas berupa karangan sederhana, surat, pengumuman, puisi, pantun, teks pidato, dan lain-lain.

Hasil belajar SKL Menulis seperti itu, sesuai dengan Permendiknas No 20/2007 tentang Standar Penilaian dan Pedoman Penilaian Hasil Belajar (Depdiknas-Ditjen Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah 2007), hanya bisa diukur dengan penilaian produk dan penilaian portofolio, bukan dengan tes obyektif pilihan ganda.

Bagaimana bisa, kemampuan menulis karangan sederhana, surat, pengumuman, teks pidato, puisi, pantun, dan lain-lain diukur dengan menyuruh siswa membaca stem dan option lalu memilih option. Menulis adalah kemampuan produktif, sedangkan membaca stem dan option lalu memilih option adalah kemampuan receptive karena hanya memahami gagasan dan logika orang lain lalu memilih mana yang paling logis dalam konteks kalimat/paragraf dan kebahasaan, sama sekali tak ada aspek produktif. Padahal, yang diminta SKL Menulis adalah siswa mampu memilih kata, menyusun kata menjadi kalimat, paragraf, dan wacana untuk membuat karangan sederhana, petunjuk, surat, pengumuman, teks pidato, puisi, pantun, dan lain-lain melalui olah otak dan gerak tangan (menulis di kertas).

Dengan demikian, soal UASBN untuk SKL menulis yang berupa pilihan ganda jelas sangat tidak valid karena bukan menguji kompetensi yang seharusnya diuji.

Jika memang Depdiknas tetap ngotot menyelenggarakan UASBN 2008 meskipun pengadilan (pertama dan banding) telah melarang, maka cakupun SKL Bahasa Indonesia yang diujikan harus semua SKL, sebagaimana tercantum dalam Permendiknas No 23/2006 tentang SKL. Jika Badan Standar Nasional Pendidikan dan Pusat Pengujian Penilaian Pendidikan Balitbang Depdiknas belum mampu mengembangkan instrumen penilaian SKL Mendengarkan, Berbicara, dan Menulis, sebaiknya Mendiknas minta bantuan Pusat Bahasa Depdiknas yang telah mampu mengembangkan soal Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia.

Dengan demikian, siswa dinilai dengan instrumen penilaian yang valid. Siswa akan mampu mengerjakannya karena instrumen penilaiannya sesuai dengan pembelajaran di kelas. Akan tetapi, jika Depdiknas tetap menguji siswa dengan soal sebagaimana kisi-kisi soal Bahasa Indonesia USBN 2008, masyarakat wajib menolak karena hasilnya tidak bisa dipertanggungjawabkan secara normatif dan teoretik.

HANIF NURCHOLIS Konsultan pada Dinas Pendidikan Tangerang; Tinggal di Cirendeu, Ciputat, Kabupaten Tangerang

Hmmm... gimana tuh?:-?

Continue Reading
No comments
Share:

Friday, May 23, 2008

HS vs Sekolah Formal (SF)

Kenapa memilih HS, ini dia hasil perbandingan kami..

Ujian & Ijazah
HS : masalah ujian & ijazah bagi HS-ers dikembalikan ke pribadi masing-masing. Kalo HS-ers mau ikut ujian & ijazah ya silahkan, Di kita kan udah ada tuh yang namanya ujian persamaan. Dan hasil ujian ini setara kok sama UANnya anak di SF. Jadi gak perlu takut gak bisa masuk ke PTN hanya karena kita HS-ers
SF : untuk ujian akhir, negara udah ngatur. Bahkan nilai minimal kelulusan pun di tetapkan oleh negara. Tapi kalo perhatiin undang-undang pendidikan yang tiap tahun berubah... terus, kayaknya kami jadi males banget buat SF. Belum lagi kalo liat di berita-berita gimana stress & tegangnya menghadapi UAN. Dan yang stress tuh semua pihak. Murid, orang tua, bahkan pihak sekolah pun stress. Kayaknya denger UAN tuh sama aja dengan kita kalo denger cerita horor deh. Ih... serem..!!!

Waktu
HS : Kalo HS itu lebih flexible. Terserah kita mau ngaturnya gimana. Mau belajar pagi, siang, sore, malem? Atau mau belajar lama, sebentar? Semuanya terserah. Lumayan deh jadi gak perlu repot-repot bangunin Keke untuk sekolah. Hehe... :DTapi yang paling penting adalah karena waktunya flexible kami berencana ingin memasukkan anak-anak ke beberapa kursus (cuma belom terlaksana sih..)
SF : Untuk urusan waktu udah ada yang ngatur, yaitu pihak sekolah. Kalo kita gak tertib (sering telat atau bolos) pasti bakalan ada sangsinya. Cuma buat kami kekurangannya adalah waktu sekolah yang panjang (apalagi kalo di sekolah swasta). Kami berpikir kalo anak-anak harus ikut berbagai kursus rasanya gak tega, takut kecapean. Paling banyak paling kami hanya memilih 1 macam aja. Padahal kursus itu penting rasanya..

Sosialisasi
HS : Banyak yang meragukan kemampuan anak HS-ers dalam hal bersosialisasi. Tapi dari info yang kami dapat, sebenernya gak ada yang perlu di takuti. HS-ers tetap bisa bersosialisasi. Memang bukan di sekolah, tapi yang namanya sosialisasi bisa dimana saja, di tempat kursus, di lingkungan rumah, dan lain-lain
SF : Di sekolah mereka pasti bersosialisasi. Tapi kalo dipikir-pikir lagi tergantung orangnya juga ya? Buktinya kalo berdasarkan pengalaman sih gak semua anak itu supel, banyak juga yang hanya mempunyai sedikit teman atau bahkan merasa gak punya teman sama sekali di sekolahnya.

Komitmen & Disiplin
HS : Ini justru yang kami takutkan kalo pada akhirnya memilih HS. Komitmen & disiplin sangat penting bagi HS-ers! Kenapa? Karena kalau dilihat-lihat HS-ers itu benar-benar bebas. Gak dituntut untuk ikut ujian, waktunya flexible. Nah kalo kita gak komit & disiplin, pasti kita akan menganggap sebebas-bebasnya dan pada akhirnya kita justru lupa untuk menuntut ilmu (gak ada yang kita hasilkan).
SF : Tetap butuh disiplin. Tapi kadang disiplin disini kadang terbentuk karena keterpaksaan. Misalnya harus belajar yang rajin supaya nilai ulangannya bagus. Yah... walopun gak semua siswa SF yang seperti itu sih... banyak juga kok yang disiplin belajar karena keinginan itu datang dari mereka sendiri buka dipaksa.

Masih ada beberapa pertimbangan kami. Tapi yang paling pokok ya yang di atas tadi. Ini sih pertimbangan untuk keluarga kami, jadi kalo ada yang gak sreg ya gak papa... Setiap orang pasti punya pertimbangan masing-masing. Mana baik-buruknya..

Sekarang sih anak-anak masih di SF (PG & TK), kami baru mau mulai nanti pas anak-anak SD. Tapi walaupun begitu, kami sudah mulai mempre-HS kan anak-anak, paling tidak dalam hal komitmen & disiplin

Continue Reading
No comments
Share:

Monday, May 19, 2008

Big Ideas for A Small Planet

Semalem nonton acara di Metro TV judulnya Big Ideas for A Small Planet. Baru kali itu nonton acaranya, sepertinya acara ini membahas tentang teknologi yang ramah lingkungan.

Bagus banget acaranya. Kemarin itu ada inventor yang bisa menciptakan plastik dari Jagung sebagai bahan utamanya, bahkan ada juga yang membuat mobil dengan kedelai & jagung sebagai bahan utamanya loh! Hebat banget deh!!

Tapi disini Chi mau ngebahas tentang plastik organik. Namanya Cereplast (cereal plastik). Dengan bahan utama jagung mereka bisa membuatnya menjadi bijih plastik yang kemudia bisa diolah menjadi berbagai macam produk dari plastik seperti gelas plastik, piring plastik, tas plastik, styrofoam, dll.

Menarik banget ya.. :-? Soalnya Chi pikir kebutuhan kita akan plastik kebutuhan yang serba salah. Keberadaan plastik & styrofoam itu sebenernya membantu banget. Coba aja bayangin, kalo kita bikin suatu acara pastinya akan lebih ringkas kalo peralatan makan & minumnya dari plastik atau styrofoam. Gak perlu cape-cape cuci peralatan makan, tinggal buang aja beres. Apalagi kalo pestanya itu banyak anak-anak sebagai tamunya. Kita gak perlu takut pecah, karena terbuat dari plastik atau styrofoam kan (paling takut tumpah doang).

Tp kalo inget bahwa styrofoam atau plastik itu bukan barang yang mudah terurai di tanah (katanya baru bisa terurai setelah 500 juta tahun), kayaknya serem banget ya? :-O Kasian bumi kita. Lagian kalo kita gak peduli sama bumi, pada akhirnya kita juga yang bakal nanggung akibatnya. Heh... bener-bener serba salah deh..

Nah begitu Chi liat cereplast ini, buat Chi sih orang yang menciptakan ini brilian banget! Katanya cereplast ini cuma butuh waktu 180 hari aja supaya bisa terurai. Mengenai kualitas, penemunya menjamin kalo kualitasnya sama dengan produk plastik & styrofoam yang ada di pasaran. Bahkan harganya pun katanya sih sama.

Wih... Kalo kualitas & harganya sama, tinggal tunggu apa lagi nih? Mudah-mudahan aja produk ini cepet-cepet diproduksi secara besar-besaran ya (atau memang udah). Atau kalo perlu mereka buka pabriknya di Indonesia. Soalnya kalo bahan bakunya jagung kayaknya negara kita diap deh (kan katanya Indonesia negara yang subur). Lagian di khawatirin kalo kita gak ikutan produksi (bisanya impor), jatohnya bakal mahal juga. Kalo udah mahal ya percuma aja deh, yang beli kemungkinan sedikit.

Hmmm... kira-kira bakalan terwujud gak ya? O'ya kalo mau tau lebih jauh lagi tentang cereplast, klik webnya aja.

Continue Reading
No comments
Share:

Friday, May 16, 2008

Sosialisasinya Anak-anak Home School

Banyak orang yang mengkhawatirkan kalo kita Home School tuh anak-anaknya bakal kurang sosialisasi. Awalnya Chi & Kak Aie juga berpikir seperti itu. Tapi setelah banyak mencari tau & berdikusi (ikut milis-milis Home School juga), kami jadi yakin kalo home school itu gak menyebabkan anak menjadi kurang bersosialisasi.

Yang kami tau sekarang masalah sosialisai itu sebenernya tergantung kitanya juga. Kadang anak yang nasuk sekolah formal gak jadi jaminan juga dia bakal pinter bergaul, buktinya banyak anak-anak di sekolah formal yang gak punya temen entah karena anaknya itu sendiri yang gak bisa bersosialisasi atau anaknya yang gak ditemenin sama temen-temennya.

Untuk anak HS mungkin mereka gak bisa merasakan suka dukanya berteman di sekolah formal (gak bisa ngerasain prom night :(). Tapi kan mereka bisa bersosialisasi ditempat lain. Di lingkungan rumah, di tempat kursus, atau lain-lain (yang penting tempat gaul yang positif aja).

Kami sih punya rencana kalo anak-anak Insya Allah jadi HS mau masukin mereka ke beberapa kursus, yang mungkin kalo mereka sekolah formal kami cuma mau masukin mereka ke satu macem kursus aja. Abis kasian, kalo liat jadwalnya sekolah formal pada panjang-panjang kalo mereka harus kursus lagi kapan istirahatnya?

So... gak perlu takut lagi anak kita bakal jadi kuper kan? :)

Continue Reading
No comments
Share:
Boleh Makan Di Kamar Gak?

Semalem Keke tanya ke Bundanya

Keke : Bun, Keke laper. Boleh gak Keke makan di kamar?
Bunda : Kalo mau makan di luar, jangan di kamar
Keke : Kenapa bun?! (Nadanya setengah protes). Karena Bunda lagi beresin kamar ya?
Bunda : Ya bukan karena itu juga.. Tapi namanya makan ya di meja makan. Kalo di kamar kan untuk tidur, nanti kamarnya kotor".
Keke : "Tapi kenapa waktu itu Keke boleh makan di kamar? Ayah sama Bunda juga suka makan di kamar! Kenapa sekarang Keke gak boleh"

Denger pernyataan Keke tadi ada rasa malu juga ya... Abis kita sebagai orang tua suka menuntut anak untuk berbuat sebaik-baiknya, tapi secara gak sadar kita malah kasih contoh yang jelek. Padahal anak seperti itu karena meniru kita.

Bunda : "Ya deh, Keke boleh makan di kamar tapi tunggu sampe Bunda selesai beresin kamar ya."
Keke : "OK bunda.."

Tapi akhirnya Keke makan di luar juga (Bundanya kelamaan bersihin kamarnya. Hehe...)

Continue Reading
No comments
Share:

INSTAGRAM FEED

@soratemplates