Thursday, August 28, 2008

Berpikir Nalar Dan Kritis

Postingan ini Chi ambil dari webnya Yudhis & Tata, tapi sebenernya yang nulis adalah mas Yanuar dan postingannya bisa diliat di sini.

Berpikir Nalar & Kritis

Salah satu pekerjaan 'sambilan' saya sebagai dosen dan peneliti di Universitas Manchester adalah mendampingi mahasiswa program magister dan doktoral dalam menulis kertas kerja atau disertasi atau thesis mereka.

Bagi saya menarik mengamati dan terlibat bagaimana proses para mahasiswa itu menalar persoalan dan menjadi kritis. Saya tidak terlalu menghadapi masalah dengan para mahasiswa asal eropa pada umumnya. Mungkin karena mereka terbiasa dididik berpikir dan menalar secara kritis (dan independen). Tetapi saya menemukan hal yang berbeda ketika bekerja dengan para mahasiswa asal Asia dan Asia Tenggara, khususnya Indonesia, Malaysia dan Filipina (Singapura dan India tidak).

Mereka cenderung "setuju saja" pada apa yang dikatakan buku, enggan berpikir "out of the box". Proses menalarnya sangat "formal" dan bisa dibayangkan, jauh dari kritis. Dan saya makin sedih melihat fakta bahwa mahasiswa Indonesia rata-rata adalah yang paling lemah dibandingkan dua negara tetangga itu. Tentu ini bukan terjadi pada semua mahasiswa indonesia, tetapi setidaknya kecenderungan itu tampak jelas.

Memang sistem studi lanjut di sini (Inggris khususnya) menekankan kemandirian. Orang dilepas untuk mencari sendiri jawaban dari apa yang ditanyakannya. Orang dituntut untuk kreatif, dan pada saat yang sama, mandiri. Mahasiswa asal Indonesia nampaknya sangat tidak terbiasa dengan itu. Apalagi ditambah dengan kendala bahasa.

Karena biasa "dicekoki" sejak SD sampai kuliah, mereka tidak biasa berpikir dan belajar mandiri.Bahkan sering mereka tidak tahu apa yang dimauinya sendiri. Contohnya ketika diminta memilih satu dari lima topik untuk research paper, mereka datang ke saya dan bertanya "pilih yang mana ya mas?".

Padahal bukankah itu kebebasan yang luar biasa? Tetapi malah bingung diberi kebebasan seperti itu. Juga kalau ada tugas/assignment untuk mengeksplorasi teori atau gagasan, mereka sering bertanya, "yang mana yang sebaiknya dieksplorasi?" padahal itu kesempatan luar biasa bagi mahasiswa untuk menjelajah dunia ilmu.

Banyak orang ke Inggris karena pertimbangan kebebasan berpikir dan eksplorasi akademis ini. Tetapi nampaknya justru tidak demikian bagi kebanyakan mahasiswa kita, yang persis seperti ayam di lumbung padi yang bingung memilih beras mana yang mau dipatuk.

Sedih, ironis. Tak heran kalau mereka sering mereka mengeluh "stress" kepada saya. Tak banyak yang bisa saya lakukan kecuali mengadakan sesi di luar kelas untuk bimbingan menulis atau meneliti atau mengerjakan tugas. Saya sebenarnya tak pernah percaya orang indonesia itu kalah cerdas (kapasitas otak) dibandingkan dengan orang lain di dunia ini. Tapi, saya khawatir, sistem pendidikan kita tidak terbiasa mengoptimalkan kapasitas berpikir kita. Saya kira ini yang perlu dan harus diterobos.

No comments: